Kecerdasan Emosional Sebagai Komplementer Kecerdasan Intelektual Dalam Menghadapi Era 'Disruptive Innovation'

    Pradipta Christy Pratiwi,

Abstract

Menghadapi era disruptive innovation, muncul kebutuhan untuk unggul secara global. Seperti disampaikan oleh Menteri Ristekdikti pada tahun 2018,  tentang kebutuhan mengembangkan sumber daya manusia yang dapat bertahan di masa depan. Kenyataannya, berbagai masalah sosial masih saja terjadi, sehingga menghambat kesiapan yang diharapkan. Misalnya seperti menyontek, hingga masalah tawuran atau bullying. Uniknya, permasalahan tersebut bukanlah karena ketidakmampuan intelektual namun terkait kecerdasan emosional (emotional inteligence).

Menanggapi permasalahan di atas, maka diadakan seminar dan pelatihan bagi sejumlah 128 siswa kelas X di SMA Permai Jakarta. Tujuannya, memberikan informasi dan melatih kecerdasan emosional siswa agar dapat bersosialisasi dan mengikuti kegiatan belajar secara efektif. Kegiatan dibagi dalam dua fase, yaitu fase seminar dan fase pelatihan. Fase seminar, dijelaskan kecerdasan emosional dan peranan komplementer dari kecerdasan intelektual (IQ), beserta aspek penting dari kecerdasan emosional. Fase pelatihan, peserta mempraktikkan keterampilan mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri dan membina relasi dengan orang lain. Teknik keterampilan yang dilatih meliputi jurnal harian, berbicara asertif, memberi pujian, temperatur emosi dan mendengar aktif. Metode penulisan yang digunakan yaitu analisis deskriptif terhadap proses berlangsungnya kegiatan dan evaluasi peserta.

Hasil evaluasi menunjukkan aspek kecerdasan emosional (EI) yang paling mudah bagi siswa adalah mengenali emosi diri sendiri (31,6%), sedangkan yang paling sulit adalah mengelola emosi (35,8%). Teknik keterampilan yang paling banyak dipilih oleh peserta yaitu 44% temperatur emosi. Simpulannya adalah (1) siswa dapat menyadari aspek EI yang telah berkembang baik sekaligus aspek EI yang masih perlu dikembangkan; dan (2) siswa melatih teknik keterampilan yang telah diajarkan. Sarannya ialah perlunya kegiatan monitoring berkala dan follow-up.

Keywords: kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, disruptive innovation
Full Text:
Section
Pendidikan