Penerapan Model Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Usaha Dan Energi

    Muh. Fatkhul Ma’arij,

Abstract

Sekolah lanjutan tingkat atas, dalam hal ini Sekolah Menengah Atas (SMA), memiliki seluruh mata pelajaran yang dapat mengembangkan potensi anak, dan dapat membekali dirinya untuk menghadapi kehidupan nyata pascapendidikan formal. Salah satu mata pelajaran kelompok peminatan adalah fisika yang merupakan bagian dari rumpun sains. Melalui mata pelajaran fisika peserta didik diharapkan dapat: (1) mengembangkan kemampuan berfikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam; (2) menyelesaikan masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif  dengan menggunakan matematika; (3) mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri.

            Ketiga sasaran pembelajaran fisika, di atas menuntut kemampuan logika matematika yang tinggi. Tuntutan ini menyebabkan tidak semua peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Rata-rata hasil belajar fisika hampir di setiap sekolah umumnya berada dibawah mata pelajaran lain sesama rumpun sains. Disisi lain fisika adalah salah satu mata pelajaran yang merupakan sarana (conten vehicle) peserta didik melaksanakan  pembelajaran (leaning actitivities) sehingga memperoleh pengalaman belajar (learning experience) dan mampu mengembangkan sendiri ilmu yang diperolehnya (knowledge generation) sehinga secara komulatif pengalaman dan pengembangan belajar tersebut membentuk kompetensi (mengetahui, menguasai, mengamalkan) yang menjadi bekal dalam  kehidupannya di masyarakat (Fatkhul Ma’arij, 2010:4). Apa jadinya jika masyarakat belajar tersebut dididik dengan metode drill, metode dikte, metode ceramah atau kita kenal dengan metode konvensional ? bagaimana mungkin mereka bisa berkompetisi jika tingkat berfikir masih LOTS (Low Order of Thingking Skills) buah dari metode konvensional ?

 Pengalaman menjadi guru fisika SMA, sejak tahun 1992 hingga saat ini, masih menemukan bahwa metode konvensional menjadi metode favorit  untuk pelaksanaan pembelajaran fisika terutama kelas-kelas dengan jumlah peserta didik lebih dari 40 peserta didik. Pembelajaran fisika di SMA secara umum masih terfokus pada transfer ilmu (knowledge transmission), guna memenuhi tuntutan kurikulum dan usaha meningkatkan nilai peserta didik saat ujian. Dampak langsung  yang ditemui adalah mereka menjadi (banking consept) berorientasi pada hasil. Dampak tidak langsungnya adalah persepsi peserta didik terhadap mata pelajaran fisika rendah, fisika menjadi mata pelajaran yang menakutkan, bahkan sikap menghargai produk ilmiah, tidak terjadi sama sekali ( jauh panggang dari api).

 Secara spesifik, masalah yang dirasakan dalam pembelajaran fisika diantaranya: jika diminta tanya jawab pada proses  pembelajaran peserta didik  cenderung menghindar, dan berusaha menjauh dari lalu lintas pembelajaran. Peserta didik membaca pada ringkasan materi seperti kumpulan rumus “LKS” tanpa memaknai variabel variabel yang terdapat pada rumus tersebut. Peserta didik mencatat pelajaran fisika tidak pada buku yang khusus (catatan atau latihan fisika), peserta didik cenderung cepat bosan mengikuti pelajaran, kemudian bercengkrama dengan teman pasangan duduknya,  tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di rumah, melainkan di kelas menjelang pelajaran dimulai  dan sebagian besar peserta didik menyalin PR dari peserta didik yang pandai dan rajin. Kemampuan berfikir rasional peserta didik sangat lemah dalam mengerjakan soal-soal fisika, tidak dapat melihat hubungan antara pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Peserta didik tidak berusaha mengkaitkan formula fisika dengan kehidupan sehari-hari, dan lingkungan tempatnya tinggalnya. Dengan kata lain pembelajaran fisika di SMA belum memberikan hasil seperti yang diharapkan di atas.

Ada beberapa faktor yang menjadikan guru fisika masih dominan dalam menggunakan pembelajaran konvensional, diantaranya adalah sarana praktikum masih kurang lengkap, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah eksperimen atau demonstrasi belum memadai, ruang laboratorium dijadikan ruang kelas karena keterbatasan jumlah kelas, sementara jumlah partisipasi  peserta didik baru melebihi kapasitas sekolah. Dengan kondisi ini umumnya guru fisika  mengajar fisika mengunakan spidol/kapur atau hanya gambar sebagai model. Pembelajaran seperti ini belum mencukupi, sebab hanya menuntut peserta didk pada tingkat mengingat yang lebih dominan atau senantiasa memaparkan fakta, tanpa melangkah kepada konsep, prosedural apalagi metakognitif. Sebagai contoh peserta didik hafal rumus energi kinetik, energi potensial, teorema energi, hukum kekekalan energi, tetapi peserta didik masih lemah dalam memahami dan memberikan contoh, atau mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari, sehingga peserta didik kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal usaha dan energi.

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya pembelajaran seperti disampaikan di atas adalah, belum terbiasanya guru melakukan banyak pendekatan, model, metode, strategi, menguasai media pembelajaran atau berimprovisasi terhadap kurangnya alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, sehingga guru mengajar dengan apa adanya. Disisi lan tuntutan sertifikasi guru hanya mengajar minimal  24 jam pelajaran seminggu, tanpa menakar lebih rinci apa yang dilakukan guru selama 24 jam pelajaran tersebut, menjadi pemicu guru malas melakukan improvisasi, mengunakan model-model pembelajaran yang membuat peserta didik aktif belajar.

 Kembali lagi pada masalah pembelajaran fisika pada umumnya, dimana peserta didik banyak yang hanya duduk (pasif) di tempat masing-masing, memperhatikan guru mengajar (menjelaskan) materi pelajaran yang diajarkan, peserta didik belajar dengan mendengarkan dan mencatat sendiri-sendiri apa yang diterangkan oleh guru. Peserta didik jarang sekali dilibatkan untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran yang menyenangkan, tetapi masing-masing peserta didik dituntut untuk berpacu dan mengerti apa yang dijelaskan guru. Maka terjadilah persaingan antar individu, bekerja keras untuk mengalahkan teman sekelasnya.

Hal di atas adalah, sebuah fenomena pembelajaran yang perlu mendapat perhatian, di tengah situasi masyarakat yang rentan dengan masalah-masalah sosial saat ini. Perlu sebuah upaya pembelajaran yang menyenangkan melalui interaksi peserta didik dengan peserta didik lainnya, peserta didik berinteraksi dengan guru dan  peserta didik, guru, berinteraksi dengan bahan ajar, sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan efektif.

Sebagaimana telah diutarakan, faktor-faktor yang cukup mendasar dalam pembelajaran fisika adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik dan benar diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada proses adalah model belajar konstruktivisme, pembelajaran yang tidak dirasakan sebagai suatu proses pembebanan dengan mengubah pola belajar peserta didik pasif menjadi peserta didik aktif dalam pembelajaran sehingga kemampuan berfikir dari LOTS menjadi HOTS (berfikir tingkat tinggi) dapat tercapai.

Merujuk pada pengalaman, dalam menerapkan berbagai model pembelajaran sebelumnya, untuk mengatasi rendahnya proses belajar perlu diterapan model pembelajaran alternatif lain.  Model Konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran (perolehan pengetahuan) diawali dengan  terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self  regulation). Pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya (Prayekti & Irwanof, 2016). Materi usaha dan energi sudah didapat peserta didik sejak SD, SMP, di SMA guru harus berulang kali mengajarkan kembali, hal ini dikarenakan adanya konflik  kognitif yang membuat peserta didik belum dapat menghayati materi usaha dan energi dengan baik. Peserta didik hanya ingat ketika mereka belajar  dan setelah ulangan mereka lupa. Oleh karena itu, peneliti ingin melaksanakan penelitian dengan judul “ Penerapan  Model  Konstruktivisme untuk Meningkatkan  Hasil  Belajar pada Mata Pelajaran  Fisika Pokok Bahasan Usaha dan Energi “

Keywords: Pendekatan konstruktivisme, Keterampilan proses, Fisika
Full Text:
Section
Pendidikan