Tantangan Merintis Kemitraan Ekowisata Mangrove: Lesson Learning Bersama Masyarakat Pesisir Belawan

    Pindi Patana, Achmad Delianur Nasution, Zulham Afandi Harahap, Prihatin Lumbanraja, Arlina Nurbaity Lubis, Onrizal Onrizal, Rudi Hartono, Indra Aulia,

Abstract

Masyarakat Kampung Nelayan Seberang Belawan sudah ada sejak 1957. Sejumlah nelayan awalnya menjadikan pinggiran hutan mangrove di Pesisir Belawan sebagai tempat singgah sementara selama melaut, namun seiring waktu kini berkembang menjadi perkampungan nelayan.  Kehidupan nelayan pesisir masih sangat tradisonal dan cenderung marginal dari kegiatan pembangunan. Mereka mengandalkan penghidupan dari hasil tangkapan laut seperti ikan, kepiting dan udang.  Keberadaan hutan mangrove yang berstatus hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitar perkampungan nelayan belum banyak berdampak terhadap kesejahteraan.  Bahkan di tahun 2000an banyak yang memanfaatkan mangrove secara illegal untuk dibuat menjadi arang, sehingga menurunkan produktivitas tangkapan laut serta mengancam kelestarian lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan konsep Desa Binaan USU di Pesisir Belawan ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui pemanfaatan jasa lingkungan ekowisata hutan mangrove berbasis ekonomi masyarakat. Metoda yang digunakan LPPM USU yaitu memfasilitasi pembentukan kelembagaan wisata dengan pola kemitraan nelayan dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara serta pelatihan pengelolaan ekowisata. Analisis potensi wisata menunjukkan hutan mangrove sangat terbuka untuk dikembangkan menjadi ekowisata di Pesisir Belawan. Pengelolaan ekowisata diharapkan menjadi pintu akses masyarakat terhadap pemanfaatan hutan mangrove secara legal serta adanya alternatif penghidupan yang berkelanjutan.

Keywords: Lesson learning, Belawan, mangrove, ekowisata
Full Text:
Section
Lingkungan Hidup dan Bencana